Friday, November 07, 2008

Prolog
Di dalam puncak alam baka yang di lewati matahari hitam. Buruh-buruh pencabut nyawa memandang rendah gunung mayat yang mati sengsara. Darah tertumpah di atas tanah, membuat aliran sungai kental berbau amis. Pedang bersauh di sela tubuh dan daging yang gempal. Membelah urat dan memotong tulang. Melepaskan wajah penasaran dari tubuh-tubuh tak berdaya.
Dulunya mereka terlihat manis sehingga menjadi pucat seperti hantu, terpaksa kehilangan keperawanan mereka dan mati menangis tersedu. Dulunya mereka tersenyum dengan gembira, hingga menjadi masam tanpa tahu masa kedewasaan. Dulunya mereka ramah dan tak mengenal lelah, hingga keriput di pipi mereka bersimbah darah. Mereka hanya wanita, anak-anak dan para manula.
Rumah-rumah rakyat rubuh terbakar kebencian. Kepulan asapnya menyesakan hati dan menimbulkan dendam. Suara-suara kedengkian, sumpah serapah, hujat, tipu, tawa, sedih, serta erangan kematian mengiringi pembinasaan.
Apa artinya seorang Nasir? apa artinya sebuah ilmu? apa artinya segenggam harta dan kekuasaan? Sementara temanya yang ia sayangi dan anak-anak muridnya yang cerdas satu-persatu menjemput ajalnya.
Rasanya seperti menginginkan waktu kembali satu-persatu. Mengubah masa jika ia bisa dirubah. Dan terus bersama dengan kebaikan yang ada. Tanpa ada cobaan, tanpa ada penderitaan dan tanpa ada kehilangan.
Ribuan senjata berlumpur merah, bercampur karat dan sisa jiwa yang penasaran. Tergenggam erat di tangan manusia bernadi Tartar. Wajah-wajah tanpa dosa, dingin tak sanggup bicara. Selaksa kuda ditunggangi mereka berkumpul menunggu perintah sang penguasa.
Itu bukanlah wajah tengkorak, hanya sebuh topeng bergaris merah dan putih yang menakutkan. Badannya tinggi dan besar, berjubah perang dengan lapisan perak dan emas. Di atas tungganganya yang berkeringat darah, ia berjalan secara perlahan mendekati Nasir yang malang.
Namun, kudanya tiba-tiba melompat tinggi ketakutan. Menjerit tak berani maju kedapan. Beruntung, kemampuan menunggang kuda yang lihai membuat ia tak terjatuh. Penunggang itu kemudian mengelus kudanya sehingga ia menjadi tenang. Topengnya ia buka dan memperlihatkan wajah pria berjanggut panjang, berkumis tebal dan berjiwa setan penuh dengan kegaranganya. Matanya menyipit memastikan ia tak terhina.
“Engkau sepertinya membawa nasib buruk untukku!” Pria itu mengeluarkan aura kematian yang kental. Seolah-olah Izrail bersekutu denganya.
“Sebenarnya, siapa yang membawa nasib buruk disini?” Tanya Nasir sambil menekan kemarahanya.
Pria itu menahan tawanya di dalam hati, tak tahan melihat kebodohan manusia rendah di hadapanya.
“Akan aku ampuni nyawamu saat ini tapi, katakan apakah aku manusia yang adil atau zalim?” Pria itu memberikan sebuah pertanyaan yang sering ia berikan kepada semua cendikiawan yang ia temui. Jika menjawab adil maka ia akan digantung. Sementara jika zalim maka ia akan dipancung.
“Sesungguhnya akulah yang zalim dan abai, sehingga rakyatku menderita. Andai aku bisa membuat mu tergelepar di tanah dan mencium tai anjing!”
Akhirnya pria itu benar-benar tertawa puas, sehingga semua prajuritnya merasa takut dan mengeluarkan keringat dingin. Baru kali ini Hulagu bertemu pria seberani dan sumbar Nasir. Ia tak memberikan sebuah jawaban tetapi hanya pernyataan yang menghina.
“Aku sudah banyak membunuh manusia, sehingga aku tak ingat siapa saja yang aku lepaskan jiwanya dari tubuhnya. Semua kota kuratakan dengan tanah memberikan peringatan untuk yang lainya.”
Hulagu turun dari kudanya dan kakinya menginjak tanah lumpur bercampur darah. Badanya yang tinggi besar terlihat lebih menyeramkan dan menampakan kharisma seorang penguasa. Ia berjalan perlahan ke arah Nasir.
“Aku tak memandang bulu jika aku menginginkan mereka binasa.“ Pedang di pingganya ia keluarkan dengan perlahan seolah siap menebas Nasir yang berperawakan lebih kecil dan tak bersenjata. Hawa kematian semakin keras menyelimuti atmosfir, melewati udara dan masuk ke dalam kulit. Sehingga mencekik leher hingga semua orang tak sanggup bersuara. Hulagu benar-benar mengayunkan pedangnya ke arah Nasir dan merobek bajunya.
“Jawab pertanyaanku!” Teriak Hulagu sambil terus menghunuskan pedangnya dan siap menebas batang leher Nasir.
“Bagaimana aku di akhirat nanti?”
Kali ini pertanyaan yang sulit keluar dari mulut Hulagu, seakan memuncratkan air liurnya yang menjijikan dan mengenai wajah Nasir.
Nasir tersenyum sinis dan berkata “Manusia penakluk seperti paduka!” Ia berhenti karena merasakan kepedihan didalam dadanya. Darahnya merembes keluar membasahi Jubahnya yang putih. “Insya Allah, akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang menghiasai sejarah manusia. Bersama dengan Firaun dari Mesir, Raja Namrudz dari Babilon, Kaisar Nero dari Romawi, bahkan Kakekmu yang perkasa Jenghis Khan yang menyatukan bangsa Tartar dalam panji Mongol.” Kali ini Nasir menjawabnya dengan puas, bahkan tertawa sehingga luka di dadanya semakin membesar. Kesadaranya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Wajahnya menjadi pucat, tetapi ia tetap berdiri merelakan hidupnya di hadapn Tuhan.
Kali ini Hulagu sama sekali tak menanggapi jawaban dari Nasir. Wajah garanya menjadi tenang. Ia hanya merenung dan berjalan kembali menuju kudanya, sambil memasukan pedangnya kedalam sarung. Ia naik ke atas kuda dan berkata kepada jendralnya.
“Obati lukanya, tawan ia seperti para cendikiawan lainya! Aku ingin dia hidup.”
Jendralnya mengangguk dan langsung memerintahkan anak buahnya menangkap Nasir. Mereka memperlakukanya dengan kasar sehingga ia benar-benar terjatuh pingsan.
Apakah Hulagu bangga dengan jawaban dari Nasir. Hulagu sendiri tak tahu, seperti apa dirinya di kemudian hari. Tetapi, tahukan kamu bahwa Raja dan pengusa apa yang disebutkan oleh Nasir dengan puasnya. Ya, mereka adalah penguasa dan raja-raja yang kekal disiksa didalam neraka jahanam. Mereka tak akan pernah keluar dari sana karena harus membayar dosa-dosa mereka.
Astrometer bukanlah sebuah cerita yang indah. Janganlah berharap ini adalah cerita mengenai petualangan, jangalah mengharap sebuah cerita kebahagiaan dan janganlah berharap engkau akan puas setelah selesai membacanya. Andai manusia bisa mengukur dirinya. Maka, ia akan menjauhi keburukan dan mencari kebenaran. Dan hanya ukuran langit yang bisa menentukanya.

No comments:

Post a Comment